Pengaruh GCG, Sertifikasi ISO, Internal Audit Terhadap Korupsi Dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Kinerja Keuangan

Bagikan Artikel

Oleh: Prof. Dr. Adji Suratman

Wartaakuntan.id—Korupsi sangat mengganggu kinerja keuangan semua entitas, baik itu pemerintah, korporasi, BUMN/D, BLU/D. Fenomena korupsi bisa terjadi semua sektor, lihat Komite Pemberantasan Korupsi (KPK), telah menangkap dan memenjarakan kurang lebih 500 penyelanggara Negara (mulai Menteri, Legislatif, Gubernur, Bupati, dan walikota yang melakukan korupsi menjadi pesakitan. Seperti di Oktober 2019 ada Bupati Indramayu dan Walikota Medan tertangkap KPK.

Peta korupsi sebarannya tidak jauh di anggaran belanja barang dan jasa, investasi, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), perizinan, anggaran, DAU/DAK, penerimaan pajak, bantuan sosial, pungutan daerah (retribusi), perda tidak mengacu peraturan perundangan, penghasilan aparat-penindakan.

Korupsi dilakukan pejabat publik, untuk menjadi pejabat ternyata membutuhkan biaya politik yang besar. Biaya itu harus dikembalikan, jika mengandalkan gaji jelas tidak cukup. Gaji kecil menjadi keluhan salah satu Bupati Banjar Negara Jawa Tengah (TV Nasional), padahal untuk menjadi bupati biaya politiknya besar.

Menurut teori triangle fraud, fraud atau kecurangan yang mengakibatkan korupsi disebabkan 3 hal pertama, adanya tekanan untuk mengembalikan biaya politik yang telah dikeluarkan dan pingin lebih kaya lagi. Kedua, adanya opportunity, dimana sistem pengendalian internal sangat lemah. Seperti pengendalian internal yang dilakukan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) dibawah komando BPKP (Irjen, Itwilprop, Itwilkab/Kota, SPI BUMN/BUMD, SPI BLU/D). Ketiga, rasionalisasi, adanya pemikiran yang rasional, koruptor hidupnya mewah, kalau ketangkap KPK katanya lagi apes dan sanksi untuk para koruptor hendaknya lebih berat lagi.

Tata kelola yang baik (Good Corporate Governance), yang ada, hanya sebatas formalitas belum berjalan baik akibatnya korupsi terus berjalan dan berkembang. SOP yang ada belum banyak dapat sertifikasi ISO, belum optimal dilaksanakan sehingga banyak terjadi kecurangan yang mengakibatkan korupsi.

Memperhatikan fenomena yang ada diatas Prof. Dr. Adji Suratman tertarik melakukan penelitian tentang “Pengaruh Good Corporate Governance, Sertifikasi ISO dan audit internal terhadap korupsi dan implikasinya terhadap peningkatan kinerja keuangan”.

Penelitian ini untuk mengukur apakah GCG berpengaruh mengurangi korupsi dan meningkatkan kinerja keuangan. Lalu apakah Sertifikasi ISO berpengaruh mengurangi korupsi dan meningkatkan kinerja keuangan. Apakah audit internal berpengaruh mengurangi korupsi dan meningkatkan kinerja keuangan. Dan apakah korupsi berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan.

Sementara Association Certified Fraud Examiner (ACFE), menegaskan fraud adalah kecurangan yang terdiri dari pertama, corruption atau korupsi yang disebabkan conflict of interest purchase schemes, sales schemes, bribery atau suap, invoice kick back, illegal bratuities (gratifikasi). Kedua, mis appropriation asset atau mencuri aset, ambil kas, tagihan, pengeluaran fiktif atau diperbesar, proyek fiktif, perjalanan dinas fiktif, gelapkan tanah dan bangunan,

Baca Juga:  Kode Etik Akuntan Indonesia, Mengerem Kecurangan  

Ketiga, fraudelent financial statement, berupa kecurangan laporan keuangan, windows dressing memperbesar laba, aset seperti kasus big scandal Enron di Amerika yang dihukum pidana dan perdata termasuk Kantor Akuntan the big one Anderson dibubarkan. Hal ini menyebabkan perubahan SAK dulu mengacu ke General Accounting Accepted Principle (US GAAP) yang historical cost konvergensi dengan International Financial Reporting Standard (IFRS) yang Fair Value. Di Indonesia kasus seperti Enron juga terjadi di Waskita Karya, KAI, Kimia Farma, yang terbaru dan jadi berita hot issue kasus Garuda Indonesia.

Penelitian yang dilakukan Prof. Dr. Adji Suratman dengan penelitian kualitatif, menetapkan para aktor atau partisipan sebagai obyek penelitian yaitu mahasiswa Sarjana Program Studi Akuntansi STIE YAI Jakarta, yang telah bekerja di pemerintahan, BUMN, swasta, dengan sampling 60 orang mahasiswa.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pertama, penelitian kepustakaan, mengkaji literature, pustaka yang berkaitan dengan penelitian. Kedua, melihat langsung dan mengkaji penelitian terdahulu yang relevan. Ketiga, observasi. Dan keempat, melakukan wawancara dengan para aktor atau partisipan dengan daftar pertanyaan questioner atau instrumen.

Sedang kegiatan analisis data meliputi tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data analisis dan penyimpulan. Pemeriksaan keabsahan dan obyektivitas data melalui uji triangulasi dengan cara Focus Group Discussion (FGD) dan pengecekan data dari berbagai sumber. Triangulasi data dilakukan untuk pemeriksaan keabsahan data penelitian dan merupakan bagian penting dalam penelitian kualitatif.

Hasil Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara dengan para aktor atau partisipan yang berjumlah 60 aktor atau partisipan, dapat disampaikan hasil wawancara dengan aktor atau partisipan.

 

No Keterangan Sangat Berpengaruh Berpengaruh Kurang Berpengaruh
1 GCG berpengaruh menguragi korupsi 10 24 26
2 GCG berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan 8 42 10
3 Sertifikat ISO berpengaruh mengurangi korupsi 4 35 21
4 Sertifikat ISO berpengaruh kinerja keuangan 5 41 14
5 Audit intern berpengaruh mengurangi korupsi 21 34 5
6 Audit internal berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan 9 40 11
7 Korupsi berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan 50 10

 

Menurut hasil wawancara aktor atau partisipan dan dilakukan tahap triangulasi dengan FGD dapat disampaikan:

Pertama, bahwa GCG sangat berpengaruh mengurangi korupsi sebanyak 10 aktor atau sekitar 17%, sedang 24 aktor atau sekitar 40% berpengaruh mengurangi korupsi dan 26 aktor atau sekitar 43% kurang berpengaruh mengurangi Korupsi.

Baca Juga:  Analisis Rasio Dan Manfaatnya

Alasannya GCG hanya formalitas saja sedang implementasi masih belum optimal mengurangi korupsi, sebab korupsi secara umum tingkat atas seperti menteri, gubernur, bupati, walikota, direksi atau pimpinan tinggi dari unit kerja.

Kedua, bahwa GCG sangat berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan sebanyak 8 aktor atau sekitar 13%, dan 42 aktor atau 70% berpendapat berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan. Sisanya 10 aktor atau 17% berpendapat bahwa GCG kurang berpengaruh meningkatkan kinerja Keuangan. Alasannya bahwa GCG berpengaruh meningkatkan Kinerja keuangan sebab adanya peran komisaris independen, komite audit, direktur independen, pelaksanaan prinsip GCG mencakup tranparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness dalam tata kelola manajemen.

Ketiga, bahwa Sertifikasi ISO sangat berpengaruh mengurangi korupsi sejumlah 4 orang atau sekitar 6% dan 35 aktor atau 59% berpendapat bahwa sertifikasi ISO berpengaruh mengurangi korupsi, sisanya 21 aktor atau sekitar 35% berpendapat bahwa Sertifikasi ISO kurang berpengaruh mengurangi Korupsi. Alasan bahwa Sertifikasi ISO berpengaruh mengurangi korupsi besar sebab bila setiap kegiatan dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sudah mendapatkan Sertifikasi ISO maka korupsi akan berkurang.

Keempat, bahwa Sertifikasi ISO sangat berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan sejumlah 5 aktor atau sekitar 8% dan sejumlah 41 aktor atau sekitar 70% berpendapat bahwa Sertifikasi ISO berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan. Sedang 14 aktor atau sekitar 22% berpendapat bahwa Sertifikasi ISO kurang berpengaruh meningkatkan Kinerja Keuangan.

Kenapa yang berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan sangat besar sekitar 78% alasannya bahwa bila semua kegiatan sesuai SOP yang sudah dapat Sertifikasi ISO maka lebih efisien, efektif dan bermutu dengan demikian hasilnya optimal dan berdampak meningkatkan Kinerja Keuangan.

Kelima, bahwa audit intern sangat berpengaruh mengurangi korupsi sejumlah 21 aktor atau sekitar 35% dan 34 aktor atau 67 % berpendapat bahwa audit intern berpengaruh mengurangi korupsi. Sedang 5 aktor atau 8% berpendapat bahwa audit internal kurang berpengaruh mengurangi korupsi. Alasannya bahwa audit intern tugasnya antara lain dapat dipercayai laporan keuangan, mengamankan aset korporasi, meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha dan ditaati kebijakan pimpinan.

Meskipun ada yang menjawab kurang berpengaruh sejumlah 14 aktor atau sekitar 8% bila yang korupsi atasan top manajemen audit intern tidak berdaya.

Keenam, bahwa audit intern sangat berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan sejumlah 9 aktor atau sekitar 15% dan sejumlah 40 aktor atau sekitar 66% berpendapat bahwa audit intern berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan. Sedang sejumlah 11 aktor atau sekitar 19% berpendapat audit internal kurang berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan. Alasannya bahwa audit intern tugasnya antara lain dapat dipercayai laporan keuangan, mengamankan aset korporasi, meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha dan ditaati kebijakan pimpinan.

Baca Juga:  Menentukan Biaya Ekuitas Dengan CAPM

Meskipun ada yang menjawab kurang berpengaruh sejumlah 11 aktor atau sekitar 19 % dengan alasan yang menentukan kinerja keuangan kinerja direksi, atau kinerja top manajemen.

Ketujuh, bahwa korupsi berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan artinya bila korupsi berkurang maka kinerja keuangan meningkat, bila korupsi bertambah kinerja keuangan menurun.

Sejumlah 50 aktor atau sekitar 84% berpendapat bahwa korupsi sangat berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan dan sejumlah 10 aktor atau sekitar 16% berpendapat bahwa korupsi berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan. Alasan korupsi berpengaruh negatif besar terhadap kinerja keuangan, bila tidak ada korupsi maka kinerja keuangan lebih meningkat lagi.

Dari pembahasan di atas, Prof. Dr. Adji Suratman menyimpulkan: GCG berpengaruh mengurangi korupsi; GCG berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan; Sertifikat ISO berpengaruh mengurangi korupsi; Sertifikat ISO berpengaruh kinerja keuangan; audit intern berpengaruh mengurangi korupsi; audit intern berpengaruh meningkatkan kinerja keuangan; dan korupsi berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan.

Hasil penelitian ini memberikan saran pertama, untuk mengurangi korupsi yang terjadi disarankan agar melaksanakan dan mengimplementasikan GCG yang konsekuen dan konsisten, perlu adanya sertifikasi ISO dan peningkatan peran dan efetivitas audit intern. Kedua, untuk meningkatkan kinerja keuangan disarankan agar melaksanakan dan mengimplementasikan GCG yang konsekuen dan konsisten, perlu adanya Sertifikasi ISO dan peningkatan peran dan efektivitas audit intern.

Ketiga, untuk meningkatkan kinerja keuangan disarankan agar korupsi dikurangi dengan usaha usaha di atas, BPKP sebagai garda depan pencegahan korupsi dengan mengkoordinasikan APIP dari pusat hingga daerah dan audit intern lainnya di SPI BUMN/D, SPI BLU/D. Program kerja pemeriksaan tahunan (PKPT) dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari APIP disampaikan juga ke BPKP untuk dikonsolidasikan dan dilaporkan ke Presiden Republik Indonesia.

Keempat, untuk penelitian selanjutnya agar dapat dilakukan penelitian kuantitatif terkait GCG, ISO, pengawasan internal, korupsi, dan kinerja keuangan. (*)

 

*Penulis:

  1. Ketua 2 Persatuan Guru Besar Indonesia.
  2. Ketua IAMI Bidang Etika.
  3. Wakil Ketua 4 STIE YAI.
  4. Pembina Komite Anti Korupsi Indonesia.
  5. Pembina APPTASI
  6. Dewan Kehormatan KK Advokat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *